Jogja | Indonesia | 90's | TK Madukismo | SDN Padokan 2 | SMPN 5 Jogja | SMAN 2 Jogja | FEB UGM | Soulmate Kahitna | Echerz | Sagittarian | Sanguine | Daddy's Little Girl | Twitter : @gandess | Instagram : gandess | Favorite quote : Let your heart guide you. It whispers softly, so listen closely. : )
Punya cita-cita? Sadar nggak sadar, pasti punya. Tapi rada kelewatan sih kalo nggak punya. Minimal cita-cita besok pagi mau bangun jam berapa atau mau makan apa. :p
Kadang-kadang ada orang yang suka telat sadar sih sebenernya cita-cita dia itu apa. Ya aku salah satunya yang telat sadar. Jujur aja, dari kecil terbiasa semuanya ngikutin apa yang papah bilang. Sekolah dimana, les dimana, belajar apa, belajar kapan, mau jadi apa, hari ini harus apa, besok harus gimana, gitu-gitu deh. Jadinya semua rada semacam terombang-ambing. Mau ini itu, banyak, macem-macem, tapi semuanya karena itu papah yang atur, sementara diri sendiri nggak jelas sebenernya mau apa. Well, itungan punya keinginan sendiri itu mungkin baru pas SMA. Mungkin karena saat itu aku baru sadar kalo aku punya kehidupan sendiri dan boleh punya cita-cita sendiri. Tapi yang namanya anaknya papah, tetep aja semuanya tergantung dari persetujuan papah. Alhamdulillah sih sampai sekarang si papah setuju-setuju aja aku maunya apa. Palingan kalo melenceng dikit ya sama papah dibalikin ke jalan yang benar. Namanya juga anak-anak. :))
Semua orang punya banyak mimpi, banyak cita-cita. Tapi pasti ada satu yang utama. Satu mimpi yang sangat besar yang sebelum menuju ke sana, ada beberapa tahapan mimpi-mimpi lainnya yang harus diwujudkan dulu. Mimpi-mimpi kecil sebelum ke mimpi yang paling besar. Nah, mewujudkan mimpi-mimpi kecilnya aja kudu usaha kan, apalagi mimpi yang besar. Banyak hal yang harus dilewati, banyak usaha, banyak kerja keras (dan pastinya berdoa).
Gagal? Pasti pernah. Sering malah. Namanya juga manusia, tempatnya bikin salah. Banyak salah pilih jalan juga. Tapi nggak berarti nggak belajar dari kesalahan-kesalahan yang udah pernah terjadi kan ya. Banyak hal yang harus diubah di tengah perjalanan. Tapi bukan tujuan akhirnya yang diubah. Mimpinya tetap sama, cita-citanya tetap sama, tapi ya perjuangan buat mencapai ke sana itu yang dibuat lebih fleksibel.
Kecewa pasti pernah. Sedih juga pernah. Tapi bahagianya juga pasti sebanding dengan kecewa dan sedihnya. Mungkin seringkali jalan yang kita pilih juga ditentang oleh banyak pihak. Mungkin terkadang membahagiakan untuk kita, tapi bikin pihak lainnya kecewa. Kenapa harus pilih ini, kenapa harus memutuskan seperti itu. Mungkin juga jalan yang kita pilih bertolak belakang dengan apa yang diinginkan orang tua. Sampai membuat kita berdebat dengan mereka. Tapi yakin aja sih, namanya juga orang tua, mereka ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Cuma mungkin cara menyampaikannya nggak dimengerti sama anak-anaknya.
Kewajiban dan minat kita mungkin ada di dua titik yang saling bertolak belakang. Kewajiban kita sebagai seorang anak mungkin nggak sama dengan minat kita sebagai seorang….. ya apapun itu yang menjadi keinginan kita sendiri. Lalu, apa mimpi dan cita-cita kita harus kita sesuaikan dengan keinginan orang tua? Kalo menurutku sih nggak juga. Nggak perlu menyesuaikan mimpi dan cita-cita kita dengan siapapun itu. Karena apapun pilihan kita pasti akan selalu ada pro kontranya. Yang penting nggak dengan sengaja berniat merugikan orang lain aja sih ya.
Eng… kok jadi kemana-mana? Ok. Back to topic.
Banyak jalan menuju Roma. Gitu kan katanya. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan sebuah mimpi. Menurutku sih yang terpenting dalam mewujudkan sebuah mimpi itu bukanlah sekuat apa kita mampu bertahan melewati satu jalan tapi secerdas apa kita mampu memilih mana jalan yang paling tepat untuk menuju ke satu tujuan utama kita itu. Ada banyak jalan yang bisa dicoba, kalo cuma stuck di satu jalan aja dan nggak maju-maju diem aja di situ padahal ada banyak jalan lain yang lebih memungkinkan untuk dilewati, kenapa nggak coba jalan lainnya itu kan? Gagal kali ini, siapa tahu kesempatan berikutnya bakalan gagal lagi. Hehehe. Abis itu mungkin baru berhasil. Yah, endingnya sih gini » kalo emang rezekinya kan nggak bakalan kemana-mana, yang penting udah usaha, daripada belum apa-apa udah nyerah dulu, pasti rasanya lebih kecewa. Toh percaya aja kalo Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat kita.
Iya kan?
: )
Winna Efendi (Refrain)
Pernah nggak sih ngerasa tersesat pas lagi berada di suatu tempat? Atau ngerasa nggak kenal sama lingkungan itu? Entah karena masih baru di sana atau karena faktor-faktor yang lainnya. Aku sih, sering. Hahaha! Yah, bisa aja tiba-tiba kita ada di suatu lingkungan yang kita asing banget, nggak tau lagi dimana, nggak kenal siapa-siapa di sana dan itu bikin bingung. Trus gimana ceritanya kok bisa sampai ada di tempat itu? Eng… simpel. Mungkin karena ada orang lain yang tanpa sengaja membawa ke tempat itu atau karena……….. kitanya sendiri yang iseng penasaran pengen nyoba masuk ke lingkungan itu. Tapi nyatanya begitu masuk kita malah kayak orang ilang. Tadaa! Hehehe. #nyengir
Trus kalo udah kayak gitu, mendingan ngapain ya? Kalo aku sih biasanya ngelakuin cara-cara ini.
1. Cari Kenalan
Coba ajak kenalan orang yang ketemu di situ, ajak ngobrol, cerita-cerita, tanya-tanya, dan sebagainya. Dengan begitu kita bisa lebih mengenali lingkungan tempat kita berada saat itu. Tapi pastikan orang yang kita ajak kenalan itu lebih kenal lingkungan itu daripada kita. Bukan orang yang sama-sama lagi ‘tersesat’ di sana. :p
2. Explore
Cari sesuatu yang kira-kira menarik perhatianmu. Perhatikan apa yang terjadi di lingkungan itu. Cermati apa yang sering orang-orang lakukan di sana. Jalan-jalan sebentar buat keliling-keliling nggak dosa kan. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai nantinya bukannya nemu jalan tapi malah makin ilang. Cari apa yang kira-kira bisa membuatmu bertahan di sana. Ya itu sih kalo emang harus bertahan. Tapi seenggaknya dengan lebih mengenal lingkungannya, kita bisa tau gimana harus bersikap kalo misalnya terjadi sesuatu di sana.
3. Adaptasi
Coba sesuaikan diri dengan apa yang ada di sana. Sama kondisinya, orang-orangnya, gitu-gitu. Iseng-iseng nyobain apa yang mereka makan, nyoba ngerjain apa yang mereka kerjakan, dll. Tapi sekedar biar lebih paham aja, dan jangan sampai malah jadi kehilangan jati diri sendiri.
4. Buru-buru pergi
Ya. Kalo udah kenalan sama orangnya, udah kenal sama lingkungannya, udah usaha buat adaptasi, tapi tetep ngerasa nggak cocok, atau ternyata lingkungan itu justru malah menjerumuskan kita kemana-mana, kenapa masih harus bertahan di sana kan? Mendingan ambil ancang-ancang trus buru-buru pergi dari tempat itu sebelum terperosok makin dalam ke tempat yang kita rasa nggak cocok sama kita. Iya kan? :D
Well, sebenernya aku nulis ini buat mengingatkan diri sendiri juga sih. Karena pernah dulu aku terlalu asyik berada di sebuah lingkungan dan aku ‘lupa’ kalo lingkungan itu adalah lingkungan yang salah buatku. Maksudnya salah di sini adalah, seharusnya aku nggak berada di sana tapi karena pengen banget jadi aku ‘memaksakan diri’ buat terus berada di sana.
Menurutku gini, kadang tanpa sadar kita ‘masuk’ ke sebuah lingkungan itu buat nyari sesuatu. Entah itu ilmu, pengalaman, koneksi, relasi, dll. Ada kalanya lingkungan yang kita tempati membuat kita nyaman berada di sana. Ada kalanya juga lingkungan itu membuat kita merasa sebaliknya. Dan tanpa kita sadari lingkungan itu bisa mengubah kita menjadi seseorang yang serupa dengan orang-orang yang ada di lingkungan itu. Makanya, coba cek lagi. Kita berada di sebuah lingkungan itu karena terpaksa atau karena memang itu keinginan kita? Sebenernya kita nyaman nggak berada di sana? Coba cek lagi. Kita beneran lagi cari sesuatu nggak di situ? Yang kita cari bisa kita dapet nggak di situ? Kita dapet manfaat nggak dengan berada di sana? Kalo setelah dicek lagi dan ternyata kita nggak menemukan apa-apa, kita nggak dapet apa-apa, lalu apa kita harus terus berada di sana?
Cuma sekedar mengingatkan aja sih ya. Emang kayaknya jadi keliatan egois. Kita jadi terlihat berada di suatu tempat, bersama dengan orang-orang tertentu karena kita ingin dapet sesuatu. Ada orang yang bilang ke aku gini, “Ah ngapain ribet mikirin begituan. Aku nggak mau cari untung, nggak berniat nyari relasi atau hal-hal semacamnya di sana. Aku cuma pengen seneng-seneng aja sih.” ya aku denger jawabannya itu trus jadi mikir : seneng itu juga alasan kenapa dia ada di suatu tempat kan? Hehehe. Yah, sebagai pengingat aja, manusia emang makhluk sosial. Tapi kan nggak setiap manusia itu bisa cocok berada di semua lingkungan. Jadi ya jangan sampai kita terlalu lama berada di tempat yang salah, sibuk mencocokkan diri dengan lingkungan yang sebenernya nggak cocok buat kita trus membuat kita lupa diri.
Masih banyak yang bisa di explore. Masih banyak yang bisa dipelajari. Masih banyak yang bisa dikenali. Terkadang kita nggak bisa (atau mungkin nggak mau) keluar dari satu lingkungan karena kita terlalu nyaman berada di sana. Padahal lingkungan itu sebenernya salah buat kita. Keluar dari zona nyaman juga nggak gampang. Tapi nggak ada salahnya buat mencoba. Terus mencoba sampai kita menemukan tempat, atau bahasa kerennya ‘dunia’ yang memang di situlah tempat kita seharusnya berada.
: )
Seorang wanita muda yang tak sengaja bertemu di ruang tunggu bandara.
Seorang wanita muda yang tak sengaja bertemu di ruang tunggu bandara.
Seorang wanita muda yang tak sengaja bertemu di ruang tunggu bandara.